Hari macam mendung, tapi tak pasti akan hujan atau tidak.
Sejak kebelakangan ni saya memang tak punyai masa untuk menulis. Manuskrip saya dah lama tak saya sentuh. Mood pun tak berapa ada, maklumlah fokus dan konsentrasi terpaksa pergi ke tempat lain. Insyaa-Allah, bila ada mood dan peluang, saya akan sambung lagi. Semoga Allah swt berikan kekuatan kepada hamba-Nya ini untuk terus menulis. Aamiin.
Judul di atas ini sangat biasa tetapi pada hakikatnya saya memang anti kepada pembohongan. Semoga Allah swt selamatkan diri ini daripada kegiatan membohong! Aamiin.
Suka saya membawa anda semua kepada kitab suci al-Quran, surah An-Nisa' (surah ke 4), ayat 58, di mana Allah berfirman dengan membawa maksud :
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Ayat ini berbicara tentang menunaikan amanat dan berlaku adil.
Sebab diturunkannya ayat ini adalah mengenai kejadian pada saat penaklukan Kota Mekah, ‘Ali bin Abi Thalib merampas kunci Ka’bah dari sang juru kunci, ‘Utsman bin Thalhah, lalu menghaturkannya kepada Rasulullah. Mengetahui perkara ini, Rasulullah justru membacakan ayat ini dan memerintahkan ‘Ali untuk mengembalikan kunci itu kepada ‘Utsman bin Thalhah. Kemudian ‘Ali mengembalikannya sambil menyampaikan ayat tersebut. Maka takjublah hati ‘Utsman bin Thalhah atas sikap Rasulullah, sehingga ia seketika itu juga memeluk Islam. Kunci itupun tetap dipegangnya hingga ia wafat, kemudian diserahkan kepada putranya, Syaibah, kemudian berlanjut kepada cucunya.
Sabda Rasulullah SAW : “Tiada iman bagi orang yang tidak memiliki sikap amanah.”
Kita semua tahu bahwa teladan kita, Rasulullah saw., sewaktu muda mendapat gelar yang begitu agung dan disematkan oleh masyarakatnya. Di kala orang-orang lain mendapat gelar berupa nama-nama semisal ‘Sang Unta’, ‘Sang Singa’, atau ‘Sang Macan’, beliau justru mendapat gelar Al-Amin, ‘Sang Terpercaya’. Sehingga masyarakat pun mempercayai beliau saat terjadi perselisihan kabilah-kabilah dalam peletakan Hajar Aswad.
Begitu juga bila kita mahu menuntut ilmu terutama tentang agama, pastikan kita menuntut dari mereka yang amanah dan tidak berbohong. Kalau seorang ilmuan itu jenis kaki pembohong, maka tak usahlah kita belajar apa-apa daripadanya. Kalau kita tahu seorang ustaz atau imam itu jenis membohong (mungkin bohong pada isterinya), tak payahlah kita bergantung ilmu padanya, kerana kita tak boleh percaya cakap-cakap orang yang pandai membohong! Dalam erti kata lain, dia adalah seorang yang jenis tidak amanah.
Orang yang pandai membohong, pasti juga tidak mampu untuk berlaku adil kerana orang yang adil itu tidak bisa menipu!
Kalau kita mahu mencontohi Nabi Muhammad SAW, contohilah akhlak baginda, lepas itu barulah kita fikirkan tentang hal-hal lain yang penting untuk kita amalkan. Masyaa-Allah.
Wassalam.